Seks di Luar Angkasa, Mungkinkah?

30 Mar

Tak ada peraturan tertulis NASA yang melarang berhubungan seks di luar angkasa.
Sejak tahun 1963, saat kosmonot perempuan, Rusia, Valentina Tereshkova mengorbit dari Bumi — penjelajahan langit bukan lagi monopoli kaum adam.

Kini, berbagai misi luar angkasa memungkinkan para penjelajah langit, baik pria atau wanita bersama di satu kapsul atau di stasiun luar angkasa internasional dalam waktu lama, sebab misi penjelajahan kerap bertahun lamanya.

Hidup bersama di luar angkasa, pria dan wanita, menerbitkan pertanyaan apakah mungkin para astronot itu boleh melakukan hubungan seks dan berkembang biak di sana. Polemik soal seks di luar angkasa ini menghangat sepekan belakangan setelah University of South Wales di Australia menerbitkan kajian tentang efek buruk bercinta itu. Kajian itu terbit baru-baru ini dan dilansir sejumlah media, 15 Oktober 2010.

Diskusi soal bercinta di luar angkasa itu sesugguhnya sudah merebak semenjak tahun 1908, setelah diprovokasi tulisan berjudul “Honeymoon in Space,” karya George Griffith. Tapi saat itu soal seks ini cuma sebatas perdebatan di kalangan astronot, dan kemudian perdebatannya meredup begitu saja.

Topik ini kembali riuh tahun 2007, sesudah terkuak skandal asmara segi tiga, yang menggegerkan Badan Antariksa AS, NASA. Kisah asmara itu melibatkan astronot perempuan Lisa Marie Nowak dan Colleen Shipman, dengan William Oefelein.

Yang menggemparkan, Lisa Nowak saat itu diancam pasal percobaan pembunuhan terhadap Colleen Shipman — rival cintanya. Meski akhirnya bebas dengan jaminan, karier cemerlang Nowak di angkasa luar itu akhirnya jatuh ke Bumi.

Ketika skandal ini meruyak, komandan Space Shuttle Discovery NASA, Alan Poindexter menegaskan, seks bukan agenda dalam misi mereka.
“Kami profesional. Relasi personal bukan yang utama,” kata Pondexter, seperti dimuat Telegraph, Juni 2010.

Bagaimana jika astronot menjadi intim saat menjelajah langit?
Poindexter menegaskan bahwa itu jelas bukan pilihan. “Kami memperlakukan satu sama lain dengan hormat. Kami punya hubungan kerja yang baik,” kata dia.

NASA memang tidak melarang para krunya menjalin cinta. Juga tak ada peraturan tertulis yang melarang berhubungan seks di luar angkasa.

Namun, NASA menghindari pernyataan soal ini. Tudingan astronom Perancis, bahwa NASA mempelajari 10 posisi seks selama misi ulang aling 1996 — dibantah keras.

Sementara, badan antariksa Rusia, Rusia Space Agency, yang rajin mengeluarkan kajian efek isolasi awak luar angkasa tak pernah bicara seks.

Bagaimana dengan badan antariksa Eropa, European Space Agency (ESA)? ESA relatif memperhatikan isu seks di luar angkasa. Lembaga ini pernah mengeluarkan hasil studi pada 1998 yang menunjukkan penerbangan ruang angkasa menyebabkan penurunan kadar testosteron pada astronot pria.

Ide Buruk

Penelitian terbaru yang dikeluarkan University of New South Wales (NSW), Australia, mengingatkan bahwa bercinta di luar angksa itu sungguh merupakan gagasan buruk.

Seperti dimuat FoxNews 15 Oktober 2010, sel induk embrio akan berperilaku sangat berbeda di luar gravitasi Bumi.

Selain itu, mikrogravitasi yang dialami astronot di pesawat luar angkasa dan stasiun angkasa internasional dapat merusak tubuh dalam misi jangka panjang — menghentikan pertumbuhan otot, melemahnya tulang, dan denyut jantung yang tidak teratur.

Menurut ilmuwan jaringan Universitas NSW, Helder Marcal, mokrogravitasi juga berpengaruh dengan pembelahan sel, kekebalan tubuh, sistem otot dan tulang, kadar kalsium dalam sel, dan motilitas sel.

Eksperimen simulasi mokrogravitasi menunjukkan hasil yang tak positif bagi perkembangan sel embrio.

Apa akibatnya jika nekat?

Ada risiko negatif yang bisa dialami embrio — terhambatnya pematangan termasuk jantung, tulang, dan pembuluh darah. Pertumbuhan syaraf akan tertunda. Efek mikrogravitasi pada embrio mirip orang dewasa.

Tapi, jauh lebih merugikan. “Tubuh orang dewasa dapat beradaptasi dengan beberapa lingkungan mikrogravitasi,” kata Marcal. Bagaimanapun, di masa depan, perkembangbiakan di luar angkasa tak bisa dihindari.

Ketika saat itu tiba, ilmuwan berharap bisa melakukan intervensi medis untuk melindungi embrio dan janin dari bahaya mikrogravitasi.

Caranya, salah satunya dengan rekayasa genetika demi penjelajahan planet di tata surya. Namun disadari, ini rumit karena terkait masalah etika dan moral.
(Source: vivanews.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: